Malam
itu mulai senyap dan sunyi . Paska perjuangan yang melelahkan dan
seolah kandas tiada berujung di Fakultas Kehutanan .Tak ayal salah satu
dari perempuan sakti sebagai pengajar dan sekaligus salah satu pejuang
untuk perbaikan kampus adalah Erly Rosita . Kulihat sayup wajah seorang
Ibu pengajar yang kukenal sebagai seorang Ibu didik dan pejuang
berusaha tegar dihadapan anak didiknya .
Tak hayal
aku membaca dari kerut wajahnya yang kecewa karena hasil tak sesuai
keinginan . Seolah tidak percaya dengan hasil yang ada , beliaupun duduk
lemah . Terlihat tidak terlalu bergairah membicarakan permasalahan
kampus . Namun ketika melihat anak didiknya yang cemas ingin mengetahui
detail kedudukan perkara , beliau mulai memaksakan senyum diwajahnya .
Sembari berkata " Semua pasti ada jalan keluarnya dan kita yang sabar ".
Meski aku sangat jelas melihat kekecewaannya , tetapi beliau berusaha
tegar dan menguatkan seluruh anak didiknya yang sepemahaman dalam
perjuangan . Semua membisu dan terlihat sunyi . Karena rapat senant yang
digelar tadi siang mendapati tamu tak diundang dan mengalami deadlock .
Akan tetapi beliau selalu memberi kalimat biarpun sedikit itu sudah
cukup buat kami .Ketegarannya menguatkanku yang salah satunya
mendapatkan badai somasi yang membuatku sangat sulit bergerak . Hingga
hari ini kami sudah merasakan nafas sedikit lega , meski pada akhirnya
kami masih geram dengan banyak orang yang masih mempertahankan
jabatannya dan memotong urat malunya masing-masing demi duniawi .
Perempuan muda terlihat lemah karena tidak mengerti apa yang
diperjuangkannya dan selalu berhiporia dengan masa mudanya , Perempuan
Berumur terlihat sakti ketika melihat masih menyempatkan waktu demi
kebaikan orang banyak meski telah sibuk mengabdi kepada keluarga .
itulah kenapa menurutku seorang ibu lebih bermartabat dibanding seorang gadis yang cerdas .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar